Delegasi Fakultas Hukum Universitas Andalas Belajar Pendidikan Inklusif dari Profesor Gifu University, Dorong Penguatan Kebijakan Ramah Disabilitas
Jepang, 11 Juli 2026 -- Komitmen Fakultas Hukum Universitas Andalas (FH Unand) dalam memperluas wawasan global tidak hanya diwujudkan melalui penguatan jejaring akademik internasional, tetapi juga dengan mempelajari praktik-praktik terbaik yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Dalam rangkaian Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY) Program, delegasi FH Unand berkesempatan mengikuti sesi diskusi bersama Profesor Yoshitaka Suzuki dari Gifu University, Jepang, pada Sabtu (11/7).
Pertemuan tersebut menjadi forum pertukaran gagasan mengenai pentingnya pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas, sekaligus memperlihatkan bagaimana pendidikan, budaya, dan hukum dapat saling bersinergi dalam membangun masyarakat yang lebih adil, setara, dan inklusif.
Profesor Yoshitaka Suzuki merupakan akademisi yang memiliki fokus penelitian pada pendidikan bagi penyandang tuna rungu dan pengembangan pendidikan kebutuhan khusus. Selama bertahun-tahun, ia mengembangkan berbagai pendekatan pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif penyandang disabilitas melalui inovasi pendidikan yang adaptif dan mudah diterapkan di berbagai negara.
Salah satu inovasi yang dipaparkan adalah metode permainan angklung berbasis warna. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang mengandalkan hand sign, metode tersebut menggunakan sistem kode warna sebagai pengganti bahasa isyarat. Inovasi ini dikembangkan karena bahasa isyarat memiliki perbedaan di setiap negara sehingga tidak selalu dapat dipahami secara universal. Dengan pendekatan berbasis warna, permainan angklung menjadi lebih mudah dipelajari oleh peserta dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang tuna rungu.

Metode tersebut telah beberapa kali diterapkan melalui proyek kolaborasi bersama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pertunjukan budaya, inovasi tersebut tidak hanya menjadi media pelestarian budaya Indonesia, tetapi juga membuka akses seni yang lebih luas bagi penyandang disabilitas sekaligus memperkenalkan praktik pendidikan inklusif kepada masyarakat internasional.
Dalam suasana diskusi yang berlangsung hangat dan penuh keakraban, Profesor Suzuki turut membagikan perjalanan hidupnya hingga memilih mengabdikan diri pada bidang pendidikan kebutuhan khusus. Menurutnya, pilihan tersebut lahir dari pengalaman pribadi yang sangat bermakna, terutama kisah sang kakak yang membentuk kepeduliannya terhadap penyandang disabilitas.
Pengalaman tersebut menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus mengembangkan berbagai metode pembelajaran yang mampu memberikan kesempatan belajar yang setara bagi semua orang tanpa memandang keterbatasan yang dimiliki.
Profesor Suzuki menegaskan bahwa setiap individu memiliki potensi yang sama untuk berkembang apabila memperoleh dukungan dan kesempatan yang tepat. Karena itu, menurutnya, pendidikan inklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab para pendidik, tetapi juga membutuhkan dukungan dari berbagai sektor, termasuk bidang hukum yang berperan dalam membangun sistem perlindungan dan kesetaraan bagi seluruh warga negara.

Menutup sesi diskusi, Profesor Suzuki menyampaikan harapannya kepada para peserta dari Fakultas Hukum Universitas Andalas agar kelak mampu berkontribusi dalam menghadirkan kebijakan dan regulasi yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
"Sistem hukum yang baik tidak hanya memberikan perlindungan terhadap kelompok rentan, tetapi juga mampu menciptakan ruang yang memungkinkan setiap individu hidup, belajar, dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan bermasyarakat," pesannya kepada delegasi FH Unand.
Pembelajaran tersebut sejalan dengan tema besar Program EQUITY yang mengedepankan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education, yang menempatkan pendidikan inklusif dan akses pendidikan yang setara sebagai salah satu target utama pembangunan global.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan makan malam bersama di sebuah restoran halal di kawasan Gifu University. Selain mempererat hubungan antarpeserta, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas antara akademisi Jepang dan Universitas Andalas di masa mendatang.
Melalui pengalaman ini, Fakultas Hukum Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan hukum yang kuat, tetapi juga memiliki perspektif global serta kepedulian terhadap nilai-nilai inklusivitas, kesetaraan, dan hak asasi manusia sebagai fondasi pembangunan hukum yang berkeadilan.
Komentar